شُرُوْطُ
قَبُوْلِ الشَّهَادَتَيْنِ
Syarat-syarat
Diterimanya Syahadatain
قِيلَ لِوَهْبِ بْنِ
مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى
Ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih,
"Bukankah laa ilaaha illallah itu merupakan kunci surga?" Wahab
menjawab, "Benar,”
Kunci
yang Bergigi :
وَلَكِنْ لَيْسَ
مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ
لَكَ وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ
tetapi tidak dinamakan kunci kalau tidak
mempunyai gigi. Jadi, jika kamu datang dengan membawa kunci bergigi tentu kamu
akan dibukakan, dan jika tidak demikian, pasti tidak dibukakan untukmu."
Syahadat yang memenuhi syarat adalah Syahadat
yang memenuhi syarat itu seperti kunci yang punya gigi. Apabila satu gigi kunci
patah, maka kunci tidak dapat digunakan. Begitu pun syarat syahadatain, harus
terpenuhi semuanya, tidak boleh ada yang rusak. Syarat pertama adalah ilmu yang
meniadakan kebodohan (اَلْعِلْمُ اَلْمُنَافِيْ
لِلْجَهْلِ). Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu tentang
syahadat yang diucapkannya. Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui
makna/kandungan syahadat tidak diterima. 3:18 bahwa yang diakui syahadat
(persaksian)-nya hanya tiga pihak: Allah, malaikat, dan orang-orang yang
berilmu ; شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ
وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Syahadat orang yang berilmu adalah Syahadat
orang yang berilmu disejajarkan dengan syahadatnya Allah dan malaikat. Ditempatkannya
syahadat orang yang berilmu setelah syahadatnya malaikat merupakan pujian dari
Allah yaitu, Syahadatnya mantap sekali dan Paling dekat dengan Allah.
Syahadat ikut-ikutan adalah Syahadat
yang hanya sekedar ikut-ikutan saja tidak akan menghasilkan keimanan yang
mantap. Iman itu akan diuji bagi yang punya ilmu akan mantap dalam menjalani
ujian dan bagi yang hanya ikut-ikutan akan mudah goyah dan jatuh.
اَلرِّضَى
Kerelaan
RIDHO
(اَلرِّضَى)
Kalau cintanya sangat tinggi kepada
Allah (2:165), tentu dia akan RIDHO kepada Allah. Apapun yang dikehendaki oleh
yang dicintai tentu ia ridho menerimanya (76:30).
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا
أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan
itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
Tiada seorang pun yang mampu memberi
hidayah kepada dirinya dan tiada pula mampu memasukkan iman kedalam hatinya
serta tiada yang mampu mendatangkan manfaat bagi dirinya kecuali bila
dikehendaki Allah à kita harus menyesuaikan dengan kehendak
Allah dan MENERIMAN APA YANG DIKEHENDAKI ALLAH = RIDHO
Yang Dikehendaki Allah ada
e macam;
- Yang dikehendaki Allah TERHADAP DIRI KITA (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِنَا)
- Yang dikehendaki Allah TERHADAP ALAM SEMESTA (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِالْكَوْنِ)
- Yang dikehendaki Allah DARI DIRI KITA (مَا أَرَادَهُ اللهُ مِنَّا)
Yang Dikehendaki
Allah Terhadap Diri Kita (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِنَا)
Misalnya Allah menghendaki diri kita
besok mendapatkan ini dan itu à kita harus ridho menerimanya. Sesungguhnya,
apa yang dikehendaki Allah terhadap diri kita sudah ditetapkan sejak umur kita
40 hari di dalam kandungan
ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ
الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ رِزْقِهِ
وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ
Kemudian Allah mengutus malaikat, lalu
meniupkan ruh dan ditetapkan empat ketetapan: rizkinya, ajalnya, amalnya, dan
sengsera atau bahagia (HR. Ahmad).
Realisasi ketetapan tentu mudah bagi
Allah.
Tidak
Kita Ketahui (عَالَمُ
الْغَيْبِ)
Apa yang dikehendaki Allah terhadap diri
kita, kita sendiri tidak tahu. Ini termasuk alam ghaib (عَالَمُ الْغَيْبِ) besok kita kena musibah atau tidak, kita
tidak tahu dan bahkan besok kita masih ada atau tidak, kita pun tidak tahu. Semuanya
hanya Allah yang tahu. Pengetahuan Allah memang meliputi segala sesuatu (6:101).
Seperti pada 31:34 ; Allah mengetahui apa yang ada dalam Rahim Dan tiada
seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya
besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Qadha
dan Takdir (اَلْقَضَاءُ
وَالْقَدَرُ)
Semua hal yang ghaib itu tertuang di
dalam QADHA dan TAKDIR Allah SWT. Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan
qadha dan takdir, ada yang bertukaran antara satu ulama dan ulama lainnya. QADHA:
ketentuan Allah sejak zaman azali (alam belum ada) TAKDIR: realisasi dari qadha.
Misalnya: menuruk qadha Allah besok kita mendapatkan rizki yang banyak; pas
rizki itu datang à itulah takdir. Qadha dan takdir ada 2:
baik (ni’mat) dan buruk (bencana) 21:35 à sebagai UJIAN.
Syukur dan Sabar
Apapun takdir yang menimpa kita à
harus ridho. Realisasi ridho menerima takdir yaitu, Takdir baik à
syukur dan Takdir buruk à sabar. Keduanya adalah sifat mu’min
yang mengagumkan;
عَجَبًا لِأَمْرِ
الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا
لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ
أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Menakjubkan perkara orang beriman sebab
segala keadaannya baik dan tidak mungkin terjadi yang demikian melainkan bagi
seorang mu’min: apabila mendapatkan kemudahan bersyukur maka itu baik baginya,
dan apabila ditimpa kesusahan bersabar maka itu baik baginya (HR.
Muslim)
تَحْقِيْقُ
مَعْنَى الشَّهَادَتَيْنِ
Realisasi
Makna Syahadatain (1)
Syahadat yang kita ucapkan bukan sekedar
pernyataan, tapi sekaligus sumpah dan janji kita kepada Allah SWT ada 3 macam ;
-
Syahadat adalah proklamasi keislaman kita
-
Syahadat adalah sumpah setia kita
-
Syahadat adalah janji setia kita
Ia perlu realisasi sebagai konsekuensi
dari proklamasi, sumpah dan janji tersebut. Sehingga ia bukan pernyataan
kosong, sumpah palsu dan janji-janji belaka. Setelah seseorang bersyahadat maka
hubungan dirinya dengan Allah SWT menjadi kuat. Dirinya terikat dengan hubungan
ini dengan ikatan yang sangat kuat yang tidak akan terputus (2:256):
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا
maka sesungguhnya ia telah berpegang
kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus
Ada tiga hubungan yang harus dijaga:
Hubungan
cinta
Hubungan
cinta kita dengan Allah setelah bersyahadat haruslah kuat à
cinta yang sempurna (2:165). Realisasi cinta kita dengan Allah: Mengikuti
Rasulullah (3:31), menata cinta kita terhadap selain Allah: mencintai orang dan
apa saja yang dicintai Allah dan membenci orang dan apa saja yang dibenci Allah
à lihat kembali materi “Mahabbatullah”, “Maratibul Hubb”, dan
“Lawazimul Mahabbah”, dan berani menanggung resiko cinta: berjihad dan
berkorban (49:15). Cinta kita kepada Allah adalah cinta yang pasti berbalas
(3:31).
Hubungan
perniagaan
Hubungan
yang kuat setelah bersyahadat adalah hubungan perniagaan (dagang) antara kita
dan Allah. Perdagangan dengan Allah adalah perdagangan yang paling
menguntungkan. Seperti pada (61:10) “Maukah Aku tunjukkan perniagaan yang dapat
menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih?” Siapakah yang akan menjawab: MAU!?
Orang yang menginginkan selamat di akhirat!. Dan pada (61:11) ada dua hal yang
harus dilakukan: Iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan Berjihad dengan harta dan
jiwa.
Hubungan
kerja
Setelah bersyahadat maka kita terikat
hubungan kerja dengan Allah. Syahadat adalah perjanjiang kontrak kerja kita
dengan Allah yaitu; Kita adalah PEKERJA ALLAH (اَلْعَامِلُ)
(39:39) dan Allah adalah MAJIKAN kita (9:105). Kita bekerja sesuai order
(perintah dan larangan) Allah, bukan seenak kita sendiri à
bisa ditolak hasil pekerjaan kita. Maka yang kita sodorkan haruslah amal
terbaik (67:2, 3:92), bukan amal asal-asalan (3:188) atau ogah-ogahan (22:11). Jam
kerja kita = umur kita. Upah kita = pahala dan sorga serta bonus melihat Allah
(10:26).
تَحْقِيْقُ مَعْنَى الشَّهَادَتَيْنِ
Realisasi
Makna Syahadatain (2)
Pada materi sebelumnya disampaikan bahwa
realisasi syahadatain adalah adanya hubungan yang kuat antara seorang mu’min
dan Allah SWT. Hubungan itu meliputi: Hubungan cinta, Hubungan perniagaan, dan Hubungan
kerja. Dalam materi ini akan dibahas realisasi syahadatain dari sisi pribadi
yang mengikrarkan syahadat à kondisi pribadi yang dapat
merealisasikan syahadatain.
Syahadat adalah Proklamasi (اَلإِقْرَارُ). Syahadat yang kita ucapkan adalah
proklamasi akan jatidiri kita sebagai muslim dan mu’min. Proklamasi ini akan
mudah disampaikan di tengah masyarakat yang menghormati aturan-aturan Islam. Tapi
di tengah masyarakat yang jauh dari Islam menjadi lebih sulit, karena akan
terasa aneh. Di tengah negara non-muslim akan lebih sulit lagi, karena bisa
berakibat terbatasinya gerak langkah dalam kehidupannya. Pernyataan: اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ saksikanlah bahwa
sesungguhnya kami muslim! (3:64) menjadi tantangan berat bagi yang
menyatakannya.
Proklamasi yang kita sampaikan adalah
tentang keesaaan Allah (تَوْحِيْـدُ اللهِ),
tidak ada sekutu bagi Allah. Tidak saling menuhankan sesama manusia dengan
menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah
(9:31). Tidak menuhankan hawa nafsunya (25:43, 45:23) sehingga menganggap suatu
keharusan suatu tindakan ma’siyat. Lihatlah bagaimana para artis melakukan
adegan-adegan yang dilarang syari’at dengan dalih tuntutan skenario à
skenario sudah menjadi kitab suci para artis. Jika seorang mentauhidkan Allah,
maka sudah seharusnya memenuhi tuntutannya
– Sasaran
hidupnya (قَصْدُ الْحَيَاةِ )
adalah Allah 6:162
– Pedoman
hidupnya (مِنْهَاجُ الْحَيَاةِ )
adalah Islam 6:153
– Teladan
hidupnya (اَلْقُدْوَةُ فِي الْحَيَاةِ)
adalah Rasulullah SAW 33:21
Apakah diri kita sudah memenuhi tuntutan
ini? Perhatikanlah kisah Abud-Dahdah ketika turun surat Al-hadid ayat 11: “Siapakah
yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan
(balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”.
Hati yang bersih (sehat) adalah hati
yang selalu mengharapkan rahmat Allah SWT (رَجَاءُ
رَحْمَةِ اللهِ). Ia menyadari bahwa dirinya penuh dengan
kelemahan dan keterbatasan, sedangkan Allah memiliki segalanya dan rahmatNya
sangat luas, maka ia selalu berharap agar mendapatkan rahmat Allah. Seperti
pada (7:156) وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ à
ayat yang besar peliputan dan keumuman maknanya. Sama
dengan doa malaikat penyangga ‘arsy (40:7): رَبَّنَا
وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا
Keluasan rahmat Allah digambarkan bahwa
1% saja dari semua rahmatNya telah membuat semua makhluk saling mengasihi,
hewan liar sayang kepada anak-anaknya, dan burung saling mengasihi. 99% rahmat
Allah akan diberikan pada hari kiamat. 4:104 perbedaan mu’min dan kafir adalah
bahwa mu’min mengharapkan rahmat Allah yang tidak diharapkan oleh orang kafir (وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ).
Sesungguhnya, semua manusia bisa masuk sorga pun karena rahmat Allah.
اَلصِّبْغَةُ وَالاِنْقِلاَبُ
Pencetakan
dan Perubahan
Syahadatain
أشهد أن لاإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
• أشهد
= الشَّهَادَة mengandung 3 makna:
– Pernyataan (اَلْإِعْلاَنُ)
– Sumpah
(اَلْقَسَمُ)
– Janji
(اَلْعَهْدُ)
• لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ à
لاَ مَعْبُوْدَ إِلاَّ اللهُ (tidak
ada yang disembah kecuali Allah) à hasil akhirnya
adalah IKHLAS
• مُحَمَّدٌ
رَسُوْلُ اللهِ à
لاَ رِسَالَةَ إِلاَّ مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ (tidak ada risalah kecuali yang datang
dari Muhammad SAW) à karena itu kita mesti ITTIBA’
(mengikuti) Rasulullah SAW
Cinta
(اَلْمَحَبَّةُ)
Syahadat adalah komitmen dalam hati
untuk loyal (setia) kepada Allah dan Rasul-Nya. Kesetiaan itu tidak akan wujud
kecuali dengan adanya CINTA. Semakin besar cintanya semakin kuat kesetiaannya. Allah
SWT dan RasulNya pun menuntut orang yang beriman untuk mencintai Allah dan
RasulNya lebih dari yang lainnya à lebih dari
cintanya kepada. Bapak-bapaknya, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai (9:24). Diri sendiri: Umar
berkata, وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ
نَفْسِي (demi Allah, engkau benar-benar
lebih aku cintai daripada diriku, HR. Bukhari).
Ridho
(اَلرِّضَى)
Cinta menimbulkan kerelaan terhadap yang
dicintai. Ia ridho kepada : Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad
SAW sebagai nabi dan rasul. Ridho kepada Allah berarti ridho terhadap apa yang
dikehendaki Allah diantaranya terhadap diri kita (musibah): sabar dan syukur, terhadap
alam semesta (sunnatullah) dan dari diri kita (melaksanakan syari’at).
Iman
(اَلإِيْمَانُ)
Kalau sudah ridho kepada Allah, Islam
dan Rasul, maka berarti kita telah menjadi MU’MIN TULEN. Keadaannya bisa timbal-balik:
mu’min sejati tentu akan ridho terhadap mereka semua. Iman yang disertai ridho
inilah yang akan menghasilkan manisnya iman:
ذَاقَ طَعْمَ
الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ
رَسُولاً
“Telah merasakan lezatnya iman seseorang
yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad
sebagai Rasulnya.”
(HR. Muslim)
Celupan
(اَلصِّبْغَةُ)
Keimanan yang kuat akan menjadikan seorang
rela dicelup dengan celupan Allah (صِبْغَةُ اللهِ)
(2:138). Dirinya, luar-dalam, dicelup dengan celupan Allah sehingga memiliki
warna sesuai dengan warna yang dikehendaki Allah. Tentu ini berbeda sekali
dengan orang yang dicelup dengan celupan lain: kapitalisme, sosialisme, yahudi,
nasrani, hindu, budha, dll. Dan celupan Allah adalah sebaik-baik celupan à
sebaik-baik warna yang dihasilkan: generasi yang unik, umat yang terbaik.
Perubahan
(اَلاِنْقِلاَبُ)
Setelah dicelup dengan celupan Allah,
maka terjadilah perubahan warna pada diri mu’min. Begitulah yang terjadi pada
para sahabat, ketika mereka masuk Islam, bersyahadat, maka terjadi perubahan
yang mencolok pada diri mereka antara sebelum dan sesudah Islam. Para tukang
sihir Raja Fir’aun pun berubah saat masuk Islam diantaranya tunduk kepada Nabi
Musa AS (7:120), Iman kepada Allah (7:121) dan Kokoh ketika mendapatkan ancaman
(7:123-126).
Pribadi
Muslim (اَلشَّخْصِيَّةُ
اَلاِسْلاَمِيَّةُ)
Jika sudah terjadi perubahan pada keyakinannya
menjadi keyakinan tauhid, pemikirannya, perasaannya dan perilakunya. Maka
berarti telah terbentuk kepribadian Islam (اَلشَّخْصِيَّةُ
اَلاِسْلاَمِيَّةُ). Jadi untuk membentuk pribadi Muslim
harus dimulai dari syahadatain.
Nilai
(اَلْقَيِّمَةُ)
Pribadi Muslim inilah pribadi yang
bernilai, bermutu di mata Allah dan RasulNya serta umat Islam semuanya. Pribadi
yang berkualitas inilah yang akan membawa Islam pada kejayaannya (24:55) yaitu,
Menjadi khalifah (penguasa) di muka bumi dengan membawa rahmat bagi semesta
alam, Tamkin (kekokohan) dalam agama di atas agama-agama lainnya, Menghadirkan
rasa aman sehingga perempuan bisa bepergian tanpa mahram tanpa ada gangguan
apapun dan Semua manusia beribadah kepada Allah tanpa syirik. Kenyataannya,
musuh-musuh Islam juga memiliki tentara-tentara yang berkualitas juga à
kalau kita tidak berkualitas, kalah!
No comments:
Post a Comment