- Sunday, November 23, 2014

Resume Agama BAB 9



صِفَاتُ الرَّسُوْل
Sifat-sifat Rasul

MUWASHOFAT YANG INGIN DICAPAI
  1. Mengimani rukun iman (P)
  2. Menerima dan tunduk secara penuh kepada Allah swt dan tidak bertahkim kepada selain yang diturunkan-Nya (P)
  3. Tidak dusta (P)
  4. Tidak Takabbur (P)
  5. Memenuhi janji (P)
  6. Memiliki ghirah (rasa cemburu) pada agamanya (P)
I.    TUJUAN UMUM MADAH
Mengerti tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan aqidah yang benar yang digali dari Al Qur`an, As Sunah, dalil-dalil naqli dan ’aqli, menanamkannya dalam jiwa, dan membersihkannya dari bid`ah dan khurafat yang mungkin mengotorinya.
II. TUJUAN KOGNITIF 
  1. Memahami sifat-sifat dasar yang harus dimiliki setiap Rasul 
  2. Memahami keagungan akhlaq Nabi Muhammad saw sebagai pribadi Qur’ani dan hasil tarbiyah rabbaniyah.
III.  TUJUAN AFEKTIF  DAN PSIKOMOTORIK
  1. Menyadari bahwa Nabi saw adalah uswatun hasanah bagi umatnya.
  2. Termotivasi untuk membaca dan mengkaji sunnah atau hadits Nabi serta mempelajari perjalanan hidup dan dakwah Nabi.
  3. Menunjukkan contoh dari sifat pribadi Nabi saw dalam kehidupan sehari-hari
IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan  dalam halaqah adalah :
1. Kegiatan Pembuka
     Mengkomunikasikan tentang; Sifatur Rasul
     Menginventarisir tentang fenomena yang berhubungan dengan tema kajian
2. Kegiatan Inti
     Kajian tentang Sifatur Rasul
     Berdiskusi dan tanya jawab tema kajian (lihat tujuan  kognitif, afektif dan psikomotor)
     Penekanan dari Murabbi  tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam materi Sifatur Rasul
3. Kegiatan Penutup
     Tugas mandiri  (lihat Pilhan Kegiatann)
     Evaluasi
V. PILIHAN KEGIATAN
  1. Mengadakan rihlah dan tafakkur  tentang ciptaan Allah swt hingga dapat membuktikan adanya pencipta dengan akalnya
  2. Mengumpulkan ayat-ayat al Qur`an yang menunjukkan pada tafakkur
  3. Mengumpulkan ayat-ayat tentang pentingnya mengkaji Sifatur Rasul
  4. Mengumpulkan hadits-hadits yang menunjukkan hal di atas
  5. Menulis makalah tentang pentingnya mengkaji Sifatur Rasul
  6. Mengumpulkan perkataan-perkataan orang muslim dan lainnya yang obyektif tentang pentingnya mengkaji Sifatur Rasul
VI.   SARANA EVALUASI DAN MUTABAAH
  1.  Tes akademis melalui pertanyaan, diskusi dan dialog menggunakan metode pencatatan untuk meyakinkan (menegaskan) tercapainya tujuan
  2.  Tes kemampuan untuk membandingkan sejauh mana tujuan telah tercapai
VII. TUJUAN TARBIYAH DZATIYYAH
1.      Menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Rasulullah saw adalah sebagai hamba di antara hamba-hamba Allah lainnya,  mempunyai ciri yang juga sama dengan manusia lainnya.
2.      Menjelaskan bahwa mengetahui sifat-sifat ini diharapkan kita menyadari siapa sebenarnya Rasul dan kemudian kita dapat mengikutinya
Sifat-sifat Rasul SAW
Karena Rasul adalah manusia istimewa yang dipilih oleh Allah sebagai utusanNya, maka tentu Rasul memiliki sifat-sifat yang unggul. Ini untuk mendukung keberhasilan penyampaian risalah, penunaian amanah, dan memimpin umat. Ini menjadi daya tarik bagi Rasul, sehingga manusia mau berhimpun di sekitarnya, bergerak bersamanya, dan dapat menggantikannya.

Sifat Manusiawi (اَلْبَشَرِيَّةُ)
Rasul yang diutus untuk manusia adalah manusia juga, bukan malaikat (18:110). Oleh karena itu, Rasulullah SAW juga memperlakukan para sahabat secara manusiawi, bahkan kepada binatang dan tumbuhan pun memperlakukannya dengan sangat baik.
Beberapa sisi manusiawinya Rasul: (Terhadap Sahabat-Sahabatnya, Terhadap Istri-istrinya, Terhadap Putra-putrinya, Terhadap Musuhnya dan Terhadap hewan).

Terpelihara Dari Kesalahan (اَلْعِصْمَةُ)
Biasanya disebut dengan MA’SHUM. Bukan berarti tidak pernah salah, tetapi kalau salah langsung diluruskan (ditegur) oleh Allah SWT. 5:67 وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ à turun setelah dua tahun di Madinah. Pada awal berada di Madinah teror musyrikin Makkah memang dirasakan sekali oleh beliau, sehingga setiap malam ada yang menjaga beliau. Saat ayat ini turun, maka sahabat yang menjaga malam itu disuruh pulang karena sudah ada jaminan keselamatan dari Allah. 80:1 teguran tentang “cara dakwah Rasul” yang lebih mementingkan ketokohan, bukan pada orang yang siap meneriman perubahan (قَابِلُ التَّغْيِيْرِ). 66:1 à lihat catatan kaki Qur’an terjemah Depag RI.

Benar (اَلصِّدْقُ)
Apa yang disampaikan selalu benar, bukan dusta. Tak pernah sekalipun beliau berdusta, bahkan ketika bergurau. Seperti pada 39:33 :
     وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ à RASUL SAW
     وَصَدَّقَ بِهِ à para sahabat
Ketika di bukit Shafa beliau bertanya, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada pasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?”. “Benar,” jawab mereka, “kami tidak pernha mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran.”

Cerdas (اَلْفَطَانَةُ)
Setiap Rasul mesti cerdas, karena tantangan kaum atau umatnya yang bermacam-macam. 2:258 Ibrahim AS mampu mematahkan argumentasi Namrud dengan telak sampai dia tak mampu berbicara sepatah kata pun. Peristiwa peletakkan hajar aswad ketika beliau berumur 35 tahun menunjukkan kecerdasan beliau yang mampu menyatukan mereka. Berdakwah di wilayah yang sangat menentangnya tentu mesti cerdas sehingga dakwah tetap berlangsung.

Amanah (اَلأَمَانَةُ)
Heraklius menanggapi jawaban Abu Sufyan ketika ditanya tentang apa yang diperintahkan kepada mereka, maka jawabannya bahwa sesungguhnya dia memerintahkan kalian yaitu, Mendirikan shalat, Jujur, Memelihara diri (al-’afaf), Memenuhi janji, dan Menunaikan amanah. BEGITULAH SIFAT NABI (HR. Bukhari).

Menyampaikan (اَلتَّبْلِيْغُ)
Apapun yang datang dari Allah, meskipun berkenaan dengan teguran Allah kepada diri beliau, beliau sampaikan kepada umatnya. Surat ‘Abasa adalah teguran Allah terhadap sikap beliau kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Surat At-Tahrim menegur beliau karena mengharamkan apa Allah halalkan demi menyenangkan salah seorang istri beliau. 33:37-39 menceritakan beratnya Rasul untuk segera melaksanakan perintah Allah berupa menyuruh Zaid menceraikan istrinya lalu segera dinikahi oleh beliau untuk menghapus adat Arab yang tidak membolehkan menikahi bekas istri anak angkatnya.

Komitmen (اَلاِلْتِزَامُ)
Berbagai gangguan dan godaan dalam perjuangan dakwah dapat ditangani dengan baik oleh Rasulullah. 17:73 menggambarkan dahsyatnya rencana atau program orang-orang kafir untuk memalingkan Rasul dari dakwahnya sehingga hampir saja Rasul berpaling sedikit kalau tidak dikokohkan Allah SWT. 68:9 minimal yang mereka ingkinkan adalah sikap lunak padahal kepada orang kafir mesti tegas (5:54, 48:29) à contoh: haram mengucapkan selamat Natal.

Akhlak yang Agung (عَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ)
Ketujuh sifat tersebut membuktikan bahwa Muhammad SAW memiliki akhlak yang agung. Ini bukan pengakuan beliau, tetapi pengakuan Allah SWT (68:4). Meskipun begitu, beliau selalu tawadhu’ ketika menyebutkan para nabi yang lain: Beliau menyebut Nabi Yusuf AS dengan nabi bin nabi bin nabi, Ketika menanggapi Nabi Luth AS, “Jangan kalian merasa lebih baik dari Luth AS.” Aku dibanding nabi-nabi sebelumnya seperti orang yang membangun rumah yang indah, tapi ada satu batu bata yang bolong; akulah batu bata itu.

Akhlaknya Al-Qur’an  (أَخْلاَقُ الْقُرْآنِ)
Akhlak yang agung itu adalah akhlak al-Qur’an. Semua perkataan dan perbuatan beliau SAW adalah apa yang ada dalam al-Qur’an. Siti Aisyah ra ketika ditanya akhlak beliau, menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ (akhlaknya adalah Al-Qur’an). Ketika membina umat, maka muncullah GENERASI QUR’ANI YANG UNIK (جِيْلُ الْقُرْآنِ الْفَرِيْدِ).

Teladan yang Baik (أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ)
Wajar kalau kemudian beliau SAW ditetapkan oleh Allah SWT sebagai teladan yang baik (Idolanya bukan artis, pemain bola, atau lainnya dan Idolanya adalah Rasulullah SAW). Semboyannya adalah “Rasul sebagai teladan kami” (اَلرَّسُوْلُ قُدْوَتُنَا). Mulailah dari yang kecil, misalnya makan dengan tangan kanan, atau apapun yang baik selalu dimulai dengan yang kanan dan Sampai mengikuti jejak jihad beliau SAW.

No comments:

Post a Comment

My Video